PERBEDAAN
MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Banyak
para ahli mendefinisikan pengertian masyarakat. Namun secara umum, pengertian
Masyarakat adalah sekumpulan individu-individu yang hidup bersama, bekerja sama
untuk memperoleh kepentingan bersama yang telah memiliki tatanan kehidupan,
norma-norma, dan adat istiadat yang ditaati dalam lingkungannya. Masyarakat
berasal dari bahasa Inggris yaitu “society”
yang berarti “masyarakat”, lalu kata
society berasal dari bahasa latin yaitu “societas”
yang berarti “kawan”. Sedangkan
masyarakat yang berasal dari bahasa arab yaitu “musyarakat”.
Pengertian
masyarakat terbagi atas dua yaitu pengertian masyarakat dalam arti luas dan
pengertian masyarakat dalam arti sempit. Pengertian masyarakat dalam arti luas
adalah keseluruhan hubungan hidup bersama tanpa dengan dibatasi lingkungan,
bangsa, dan sebagainya. Sedangkan pengertian masyarakat dalam arti sempit
adalah sekelompok individu yang dibatasi oleh golongan, bangsa, teritorial, dan
lain sebagainya. Pengertian masyarakat juga dapat didefinisikan sebagai
kelompok orang yang terorganisasi karena memiliki tujuan yang sama. Pengertian
masyarakat secara sederhana adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi
atau bergaul dengan kepentingan yang sama. Terbentuknya masyarakat karena
manusia menggunakan perasaan, pikiran, dan keinginannya memberikan reaksi dalam
lingkungannya.
A.
Masyarakat Pedesaan
Masyarakat
pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang
biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi
tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan
masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial
religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian
karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Masyarakat pedesaan juga ditandai
dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu
perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya, bahwa
seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat
dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk
berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat,
karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling
menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan
kebahagiaan bersama di dalam masyarakat. Maka, masyarakat
pedesaan (rural community) adalah masyarakat yang penduduknya
mempunyai mata pencaharian utama di sektor bercocok tanam, perikanan,
peternakan, atau gabungan dari kesemuanya itu. Pengertian masyarakat pedesaan
menurut para ahli :
1. Bambang
Utoyo, desa adalah tempat sebagian besar penduduk yang bermata pencarian di
bidang pertanian dan menghasilkan bahan makanan.
2. Rifhi
Siddiq, desa adalah suatu wilayah yang mempunyai tingkat kepadatan rendah yang
dihuni oleh penduduk dengan interaksi sosial yang bersifat homogen,
bermatapencaharian dibidang agraris serta mampu berinteraksi dengan wilayah
lain di sekitarnya.
3. Sutardjo
Kartodikusuma mengemukakan desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat
tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.
4. Bintaro,
desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan
kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan
pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
5. Paul
H. Landis desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri
sebagai berikut :
a. Mempunyai
pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b. Ada
pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c. Cara
berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam
seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan
yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
Karakteristik
Masyarakat Pedesaan
Karakteristik
masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya dapat disimpulkan sebagai berikut
:
1. Homogenitas
Sosial
Bahwa masyarakat desa pada umumnya
terdiri dari satu atau beberapa kekerabatan saja, sehingga pola hidup tingkah
laku maupun kebudayaan sama/homogen. Oleh karena itu hidup di desa biasanya
terasa tenteram aman dan tenang. Hal ini disebabkan oleh pola pikir, pola
penyikap dan pola pandangan yang sama dari setiap warganya dalam menghadapi
suatu masalah. Kebersamaan, kesederhanaan keserasian dan kemanunggalang selalu
menjiwai setiap warga masyarakat desa tersebut.
2. Hubungan
Primer
Pada masyarakat desa hubungan kekeluargaan
dilakukan secara musyawarah. Mulai masalah-masalah umum/masalah bersama sampai
masalah pribadi. Anggota masyarakat satu dengan yang lain saling mengenal
secara intim. Pada masyarakat desa masalah kebersamaan dan gotong royong sangat
diutamakan, walaupun secara materi mungkin sangat kurang atau tidak
mengijinkan.
3. Kontrol
Sosial yang Ketat
Di atas dikemukakan bahwa hubungan
pada masyarakat pedesaan sangat intim dan diutamakan, sehingga setiap anggota
masyarakatnya saling mengetahui masalah yang dihadapi anggota yang lain. Bahkan
ikut mengurus terlalu jauh masalah dan kepentingan dari anggota masyarakat yang
lain. Kekurangan dari salah satu anggota masyarakat, adalah merupakan kewajiban
anggota yang lain untuk menyoroti dan membenahinya.
4. Gotong
Royong
Nilai-nilai gotong royong pada
masyarakat pedesaan tumbuh dengan subur dan membudaya. Semua masalah kehidupan
dilaksanakan secara gotong royong, baik dalam arti gotong royong murni maupun
gotong royong timbal balik. Gotong royong murni dan sukarela misalnya :
melayat, mendirikan rumah dan sebagainya. Sedangkan gotong royong timbal balik
misalnya : mengerjakan sawah, nyumbang dalam hajat tertentu dan sebagainya.
5. Ikatan
Sosial
Setiap anggota masyaratkan desa
diikat dengan nilai-nilai adat dan kebudayaan secara ketat. Bagi anggota yang
tidak memenuhi norma dan kaidah yang sudah disepakati, akan dihukum dan
dikeluarkan dari ikatan sosial dengan cara mengucilkan/memencilkan. Oleh karena
itu setiap anggota harus patuh dan taat melaksanakan aturan yang ditentukan.
Lebih-lebih bagi anggota yang baru datang, ia akan diakui menjadi anggota
masyarakat tersebut (ikatan sosial tersebut).
6. Magis
Religius
Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa bagi masyarakat desa sangat mendalam. Bahkan setiap kegiatan kehidupan
sehari-hari dijiwai bahkan diarahkan kepadanya. Sering kita jumpai orang Jawa
mengadakan selamatan-selamatan untuk meminta rezeki, minta perlindungan, minta
diampuni dan sebagainya.
7. Pola
Kehidupan
Masyarakat desa bermata pencaharian
di bidang agraris, baik pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Pada
umumnya setiap anggota hanya mampu melaksanakan salah satu bidang kehidupan
saja. Misalnya para petani, bahwa pertanian merupakan satu-satunya pekerjaan
yang harus ia tekuni dengan baik. Bilamana bidang pertanian tersebut
kegiatannya kosong, maka ia hanya menunggu sampai ada lagi kegiatan di bidang
pertanian.
Disamping itu dalam mengolah
pertanian semata-mata tetap/tidak ada perubahan atau kemajuan. Hal ini
disebabkan pengetahuan dan keterampilan para petani yang masih kurang memadai.
Oleh karena itu masyarakat desa sering dikatakan masyarakat yang statis dan
menonton.
Unsur Desa
1. Daerah, dalam arti tanah-tanah dalam hal
geografis.
2. Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah
pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk desa
setempat.
3. Tata Kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan
dan ikatan-ikatan pergaulan antar warga desa.
Ketiga unsur ini tidak lepas antar
satu sama lain, artinya tidak berdiri sendiri melainkan merupakan satu
kesatuan.
Fungsi
Masyarakat Pedesaan
1. Desa yang merupakan hinterland atau
daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok seperti
padi, jagung, ketela, di samping bahan makanan lain seperti kacang, kedelai,
buah-buahan, dan bahan makanan lain yang berasal dari hewan.
2. Desa ditinjau dari sudut pemberian
ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man
power) yang tidak kecil artinya.
3. Desa dari segi kegiatan kerja(occupation) desa dapat merupakan desa agraris,
desa manufaktur, desa industri, desa nelayan, dll
Desa-desa
di Jawa banyak berfungsi sebagai desa agraris.
Menurut Sutopo Yuwono : “Salah satu peranan pokok desa terletak di bidang ekonomi. Daerah pedesaan merupakan tempat produksi pangan dan produksi komoditi ekspor. Peranan yang vital menyangkut produksi pangan yang akan menentukan tingkat kerawanan dalam jangka pembinaan ketahanan nasional. Oleh karena itu, peranan masyarakat pedesaan dalam mencapai sasaran swasembada pangan adalah penting sekali, bahkan bersifat vital.”
Menurut Sutopo Yuwono : “Salah satu peranan pokok desa terletak di bidang ekonomi. Daerah pedesaan merupakan tempat produksi pangan dan produksi komoditi ekspor. Peranan yang vital menyangkut produksi pangan yang akan menentukan tingkat kerawanan dalam jangka pembinaan ketahanan nasional. Oleh karena itu, peranan masyarakat pedesaan dalam mencapai sasaran swasembada pangan adalah penting sekali, bahkan bersifat vital.”
Masalah-Masalah
Masyarakat Pedesaan
Setelah kita mengetahui masalah
sosial yang secara umum terjadi pada masyarakat desa dan faktor-faktor yang
mempengaruhi yang mempengaruhi masalah sosial masyarakat desa maka berikut
adalah rincian masalah sosial yang ada dalam masyarakat desa.
1. Pendidikan
Umumnya
pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang efektif dan bermanfaat serta
menjadikan masyarakat pedesaan lebih terbuka dan akses terhadap pendidikan.
Umumnya
masyarakat pedesaan kurang begitu sadar akan pentingnya pendidikan, Mereka
lebih memilih mengajak anak-anak mereka berkebun atau bertani, ketimbang
menyekolahkan mereka. Hasilnya banyak dari masyarakat pedesaan yang buta tulis
dan hitung.Manfaat pendidikan bagi masyarakat pedesaan sebagai dasar pembebas,
yakni membebaskan masyarakat pedesaan dari predikat kemiskinan,
keterbelakangan, kebodohan, dan penindasan. Selain itu, pendidikan yang baik
seharusnya berfungsi pula sebagai sarana pemberdayaan individu dan masyarakat
desa khususnya guna menghadapi masa depan. Pendidikan difokuskan melalui
sekolah, pesantren, kursus-kursus yang didirikan di pedesaan yang masyarakatnya
masih belum tahu apa itu ilmu.
2. Tingginya angka kemiskinan
Dalam
upaya percepatan pembangunan di segala bidang masih terdapat beberapa
kendala,antara lain masih tingginya angka penduduk miskin, dalam empat tahun
terakhir diketahui jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sekitar 19,51%
dari jumlah penduduk miskin tahun 2001 yaitu sebanyak 164.125 jiwa.
Dari
penurunan jumlah penduduk miskin tersebut sampai pada tahun 2005 jumlah
penduduk miskin masih sebanyak 132.125 jiwa atau 24,28 %.
3. Rendahnya kualitas Sumber Daya
Manusia
Peningkatan layanan pendidikan sangat
diperlukan dalam rangka meningkatkan kompetensi anak didik. Output
layanan pendidikan dengan pendekatan Indek Pembangunan Manusia (IPM) masih
menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan. Indek Pembangunan Manusia
komponen pendidikan tahun 2004 menunjukkan angka 6,18 tahun.
Namun bila dibandingkandengan IPM tahun
2003 terdapat kenaikan 0,13. Demikian pula segi kesehatan masih banyak yang
perlu mendapatkan perhatian khususnya angka kematian ibu dan anak dan kesakitan
malaria masih relatif tingginya.
4. Lemahnya posisi sumber daya alam
5. Lemahnya posisi sumber daya manusia di dalam pedesaan
6. Kurangnya penguasaan teknologi yang menyebabkan masyarakat pedesaan sukar mendapatkan informasi.
7. Lemahnya infrastruktur dan lemahnya aspek kelembagaan di dalam pedesaan
8. Sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
9. Kurangnya pengetahuan sosial sehingga mudah ditipu oleh masyarakat kota.
10. Konflik/pertengkaran yang biasanya berkisar dari masalah sehari-hari / rumah tangga.
11. Kontroversi yang disebabkan dari perubahan konsep adat istiadat dan kebudayaan.
12. Kompetisi dan persaingan yang negatif bila menunjukan sifat ini.
5. Lemahnya posisi sumber daya manusia di dalam pedesaan
6. Kurangnya penguasaan teknologi yang menyebabkan masyarakat pedesaan sukar mendapatkan informasi.
7. Lemahnya infrastruktur dan lemahnya aspek kelembagaan di dalam pedesaan
8. Sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
9. Kurangnya pengetahuan sosial sehingga mudah ditipu oleh masyarakat kota.
10. Konflik/pertengkaran yang biasanya berkisar dari masalah sehari-hari / rumah tangga.
11. Kontroversi yang disebabkan dari perubahan konsep adat istiadat dan kebudayaan.
12. Kompetisi dan persaingan yang negatif bila menunjukan sifat ini.
B.
Masyarakat Perkotaan
Kota menurut definisi
universal adalah sebuah area urban yang berbeda dari desa ataupun kampong
berdasarkan ukuranya,kepadatan penduduk,kepentingan atau status hukum.
Beberapa
definisi (secara etimologis) “kota”dalam bahasa lain yang agak tepat
dengan pengertian ini,seperti dalam bahasa Cina,kota artinya dinding dan dalam
bahasa Belanda kuno,tuiin,bisa berarti pagar.Jadi dengan demikian kota adalah
batas.Selanjutnya masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community.
Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupanya serta
cirri-ciri kehidupanya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Pengertian
kota menurut para ahli adalah:
1. Wirth
Kota
adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh
orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
2. Max Weber
Kota
menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan
ekonominya dipasar lokal.
3. Dwigth Sanderson
Kota
ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
Karakteristik
Masyarakat Perkotaan
Ada beberapa karakteristik yang
menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
1. Perilaku
heterogen
2. Perilaku
yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
3. Perilaku
yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
4. Mobilitassosial,sehingga
dinamik
5. Kebauran
dan diversifikasi kultural
6. Birokrasi
fungsional dan nilai-nilaisekular
7. Individualisme
Unsur Lingkuangan Perkotaan
Secara
umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan, seyogyanya mengandung 5
unsur yang meliputi:
1. Wisma
Unsur ini merupakan bagian ruang
kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya,
serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga.
2. Karya
Unsur ini merupakan syarat yang
utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini merupakan jaminan bagi
kehidupan bermasyarakat.
3. Marga
Unsur ini merupakan ruang perkotaan
yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan
tempat lainnya di dalam kota (hubungan internal), serta hubungan antara kota
itu dengan kota-kota atau daerah lainnya (hubungan eksternal).
4. Suka
Unsur ini merupakan bagian dari
ruang perkantoran untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas-fasilitas
hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan, dan kesenian.
5. Penyempurnaan
Unsur ini merupakan bagian yang
penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam ke empat
unsur di atas, termasuk fasilitas keagamaan, perkuburan kota, fasilitas
pendidikan dan kesehatan, jaringan utilitas umum.
Kelima
unsur pokok ini merupakan pola pokok dari komponen-komponen perkotaan yang
kuantitas dan kualitasnya kemudian dirinci di dalam perencanaan suatu kota tertentu
sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang spesifik untuk kota tersebut pada saat
sekarang dan masa yang akan datang.
Fungsi
Masyarakat Perkotaan
Ada beberapa fungsi masyarakat
perkotaan diantaranya adalah:
- Sebagai pusat Produksi
- Sebagai pusat perdagangan
- Sebagai pusat pemerintahan
- Sebagai pusat kebudayaan
- Sebagai penopang Kota Pusat
Masalah-Masalah Masyarakat Perkotaan
Permasalahan penduduk ini tentu
tidak berhenti sampai disini saja, permasalahan penduduk di perkotaan mengakar
dan membuat masalah masalah baru, diantaranya adalah:
1.
Banjir
Penyebab banjir di DKI Jakarta,
secara umum terjadi karena dua faktor utama yakni faktor alam dan faktor
manusia. Penyebab banjir dari faktor alam antara lain karena lebih dari 40%
kawasan di DKI Jakarta berada di bawah muka air laut pasang. Sehingga Jakarta
Utara akan menjadi sangat rentan terhadap banjir saat ini. Berbagai faktor
penyebab memburuknya kondisi banjir Jakarta saat itu ialah pertumbuhan
permukiman yang tak terkendali disepanjang bantaran sungai, sedimentasi berat
serta tidak berfungsinya kanal-kanal dan sistem drainase yang memadai. Kondisi
ini diperparah oleh kecilnya kapasitas tampung sungai saat ini dibanding
limpasan (debit) air yang masuk ke Jakarta. Kapasitas sungai dan saluran
makro ini disebabkan karena konversi badan air untuk perumahan, sedimentasi dan
pembuangan sampah secara sembarangan.
2.
Urbanisasi
Berdasarkan survei penduduk antar
sensus (Supas) 1995, tingkat urbanisasi di Indonesia padatahun 1995 adalah
35,91 persen yang berarti bahwa 35,91 persen penduduk Indonesia tinggal
didaerah perkotaan. Tingkat ini telah meningkat dari sekitar 22,4 persen pada
tahun 1980 yanglalu. Sebaliknya proporsi penduduk yang tinggal di daerah
pedesaan menurun dari 77,6 persen pada tahun 1980 menjadi 64,09 persen
pada tahun 1995.Meningkatnya kepadatan penduduk perkotaan membawa dampak yang
sangat besar kepadatingkat kenyamanan yang tinggi. Kota seperti Jakarta
misalnya tidak dirancang untuk melayanimobilitas penduduk lebih dari 10 juta
orang. Dengan jumlah penduduk lebih dari 8 juta penduduk saat ini,
ditambah dengan 4-6 juta penduduk yang melaju dari berbagai kota
sekitar Jakarta, menjadikan Jakarta sangatlah sesak.
3.
Kriminalitas
Kejahatan atau kriminalitas di
kota-kota besar sudah menjadi permasalahan sosial yang membuat semua warga yang
tinggal atau menetap menjadi resah, karena tingkat kriminalitas yang terus
meningkat setiap tahunnya.faktor penyebab Tingkat pengangguran yang tinggi ,
Kurangnya lapangan pekerjaan membuat tingkat kriminal juga meningkat karena kurangnya
lapangan pekerjaan danKemiskinan yang dialami oleh rakyat kecil kadang membuat
mereka berfikir untuk melakukan tindakan kriminalitas.
4.
Bangunan
liar
Daya
tarik ibu kota atau perkotaan membuat warga warga desa berdatangan untuk
mencari peruntungan di kota. Mereka memiliki mindset bahwa di perkotaan mereka
dapat mendapatkan pekerjaan, apapun itu. Kenyataannya setelah sampai dikota,
banyak dari mereka yang tidak tahu harus tinggal dimana sedangkan perkerjaan
ternyata susah didapat. Mau tidak mau banyak orang-orang desa ini yang terpaksa
mendirikan bangunan liar di pinggiran jalan, sungai, dibawah flyover disudut –
sudut perkotaan. Tentu ini menjadi permasalahan yang rumit, saat mereka sudah
menetap lama disana, dan pihak pemerintah juga tidak ambil tindakan yang cepat
untuk penggusuran, alhasil bangunan yang awalnya hanya triplek dan kayu kayu
berubah menjadi semenan batu bata semi permanen. Tentu ini membuat kewalahan
para pemerintah andaikan mereka menggusur dan menormalisasi pemukiman pemukiman
yang dihuni diatas tanah negara. Akibatnya adu cekcok, saling mempertahankan
pendiriannya satu sama lain memicu konflik dan pertengkaran.
5.
Menjamurnya
pengemis
Permasalahan
berikut juga masih tersambung dengan permasalahan diata. Tidak dapatnya
lapangan perkerjaan banyak mereka yang masih mempunyai hati nurani tidak berani
untuk melakukan tindak kejahatan, akhirnya yang diambil adalah jalan kelicikan.
Yaitu dengan pura-pura pincang, buta dsb demi terlihat tak berdaya sehingga
banyak orang mengasiihi dan memberikannya uang. Pekerjaan yang benar
benar santai, hanya menunggu dan duit datang sendiri. Begitu peliknya
perkotaan.
6.
Kemacetan
Masalah
yang satu ini jika tidak terjadi di daerah perkotaan, bukan kota namanya.
Kemacetan adalah masalah yang selalu diupayakan oleh pemerintah khususnya di
jakarta. Gimana tidak macet, jika warga bodetabek semua orang bekerja di
jakarta. Sepeda motor, mobil, belum ditambah angkutan – angkutan yang buta
rambu –rambu, ini menyebabkan kemacetan yang sangan sangat parah. Belum
ditambah jika banjir melanda maka kemacetan menjadi kemasetan.
Banyak masih masalah masalah yang
ada diperkotaan, seperti geng motor, kolompok-kelompokorganisasi
masyarakat yang tidak jelas suka ribut, kecelakaan lalin yang tinggi, dll.
Namun masalah-masalah diatas sudah cukup untuk mewakili permaslaahan yang ada
di perkotaan.
C.
Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
1. Agama
Masyarakat pedesaan
dikenal sangat religious. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan
ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam
kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan. Misalnya tahlilan, rajaban, jumat
kliwon, dan lain-lain.
Sedangkan Kehidupan
keagamaan di kota berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang
kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
2. Sosial
Masyarakat desa
sangat mengutamakan social life nya. Mereka bergotong royong melakukan hal
tanpa ada unsur uang/materi. Namun karena masyarakat kota yang syarat akan
materi jadi segala sesuatu yang dilakukan atas dasar materi untuk kepentingan
diri sendiri.
3. Lingkungan Alam
Masyarakat pedesaan
berhubungan kuat dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografinya di daerah
desa.
Penduduk yang tinggal
di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum
alam, seperti dalam pola berpikir dan falsafah hidupnya. Berbeda dengan
penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
4. Pekerjaan
Pada umumnya atau
kebanyakan mata pencaharian daerah pedesaan adalah bertani dan berdagang
sebagai pekerjaan sekunder. Namun di masyarakat perkotaan, mata pencaharian
cenderung menjadi terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat
dikembangkan.
5. Kepadatan Penduduk
Penduduk desa
kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota.
Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi
dari kota itu sendiri.
D.
Hubungan Pedesaan dan Perkotaan
Masyarakat
pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah
sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya
terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka
saling membutuhkan.“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang
tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut
sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas
pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan
kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.
Salah
satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
1. Urbanisasi
dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat
Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka
timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya
penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan
proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).
2. Sebab-sebab Urbanisasi
a. Faktor-faktor
yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push
factors).
Hal – hal yang termasuk push factor
antara lain :
·
Bertambahnya penduduk sehingga tidak
seimbang dengan persediaan lahan pertanian.
·
Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh
produk industri modern.
·
Penduduk desa, terutama kaum muda,
merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu
cara hidup yang monoton.
·
Didesa tidak banyak kesempatan untuk
menambah ilmu pengetahuan.
·
Kegagalan panen yang disebabkan oleh
berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga
memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
b. Faktor-faktor
yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota
(pull factors).
Hal – hal yang termasuk pull factor
antara lain :
·
Penduduk desa kebanyakan beranggapan
bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan
penghasilan.
·
Dikota lebih banyak kesempatan untuk
mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
·
Pendidikan terutama pendidikan lanjutan,
lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
·
Kota dianggap mempunyai tingkat
kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam
kultur manusianya.
·
Kota memberi kesempatan untuk
menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri
dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar